Bicara bentuk
Pagi yang dinikmati sebagai satu tekat ternyata akan membawa kekuatan yang lebih untuk membawa manusia pada titik yang akan dilewatinya sebagai akses point-akses point, manusia sebenarnya hanya perlu kesiapan mental yang kuat dan skill yang cukup untuk mengarungi kehidupan misteri setelahnya, karena kemisterian masa depan itu akan selalu akan menjadi misteri, dan kuncinya untuk membuka misteri adalah menjalaninya, ya benar! hanya menjalaninya, hal ini akan kami buktikan dengan cerita setelahnya.
Pagi yang indah, tidak panas juga tidak terlalu dingin, sehingga sinar matahari itu menerobos masuk kedalam rumah semen dan rumah dagingku, beberapa malam sebelumya aku sudah merencanakan ingin balik kejogja dengan kereta, kesiapan ku adalah informasi yang aku kumpulkan sekenanya dari tetangga, dan orang-orang terdekat. Dan kesiapan ku yang paling penting untuk ini adalah kepercayaan pada diriku, bahwa aku akan melewatinya dengan suka maupun duka.
Bagaimanapun orang pergi mengarungi kehidupan harus percaya bahwa dirinya akan melewatinya, semuanya adalah keindahan, dan akan dilewatinya dengan senyuman, bagaimanapun orang meragukannya, satu, dua, sekota, seindonesia. Aku hanya percaya akan diriku ini. Aku ini adalah wakil-wakil yang tak dapat luntur hanya kalau diragukan manusia. Pagi itu aku diantar dengan kasih sayang sang ibu kesetasiun Brumbung untuk menaiki kereta yang akan mengujiku dalam salah satu ujian kecil hidup. Pertama kali melihat gerbong itu, yang hanya terdiri dari dua gerbong depan dan belakang, ibu ku tentunya menghawatirkan bentuknya, kondisinya, akan bahaya, nikmat-tidak nikmat, nyaman-tak nyaman, dan tentunya itu bentuknya lah yang paling diperhatikan untuk menakar kesemuanya itu.
Form, bentuk, simbol, huh! aku paling tidak percaya dengan itu semua, tapi semua orang sangat mempercayai itu, dan itulah kesan awal dan sensasi yang tercipta yang dihasilkan dari panca indera. Celakanya kebanyakan orang mempercayai dan menuhankannya, aku katakan menuhankan karena mereka mempercayainya tanpa mengetahuinya, bukankah itu hanya hak tuhan dan hal-hal yang sudah tuhan tunjukkan?
Masih belum puas aku bicara bentuk ini, bentuk membawa manusia pada sesuatu yang terbentuk padahal yang membuat bentuk ini adalah orang lain yang terkadang, dapat saja terjadi orang, masyarakat, ataupun bahkan pemerintahan mengatakan dengan simbol bentuk yang sama tetapi mempunyai arti dan maksud yang berbeda. Karena itu bentuk selalu unik, dan pertanyaan saya kenapa bentuk itu harus ada dan selalu dibuat untuk dipergunakan menakar hal yang tidak dapat dibatasi hanya dengan bentuk?
Tetapi kadang pemerintahan dan orang-orang berkuasa memaksakan bentuk itu kedalam orang yang dikuasainya, mereka menggusur bentuk-bentuk original dari orang-orang unik lainnya dan ini seperti wilayah tuhan yang mulai ditempatinya.
Aku mengatakan itu hal itu juga bingung sebenarnya, apakah manusia tidak membutuhkan bentuk
Oo ya ingat aku, tadi malam aku baca status fb mas ulil “Rasa keadilan kerapkali tak bisa seluruhnya tertampung dalam hukum resmi, entah itu hukum agama atau hukum sekuler. Oleh karena itu, hukum harus terus berkembang, sesuai dengan perkembangan rasa keadilan masyarakat. Itu salah satu inti tulisan Prof. Soetandyo Wignyosoebroto di Kompas hari ini. Saya setuju sekali dg pandangan itu”. Alangkah dunia ini akan menjadi kacau karena bentuknya menjadi kotak-kotak, atau berupa buku-buku hukum yang dianggap baku dan benar, akibatnya yang terjadi adalah silat lidah, akrobatik hukum dan mencoba-coba eker2 “sela-sela” hukum yang ada.
Beginilah akibatnya jika dunia menjadi terbalik, manusia membuat simbol kan untuk mengekspresikan maksud, aduh,,, yang terjadi sekarang malah simbol itu malah dijadikan tolok ukur yang “universal” untuk semua maksud. Artinya hukum itu yang dijadikan segalanya, segalanya harus berasal dari hukum yang berupa teks-teks itu, sehingga akibatnya adalah tidak ada kebijaksanaan didalamnya. Sesuatu hal harus diselesaikan dan diukur berdasarkan “kemungkinan-kemungkinan teks” yang mati, sehingga hukum itu ikut mati, dan keadilan yang dicita-citakan ikut mati.
Akhirnya cerita ku tidak selesai, ya wis, ini hanya sebatas grenengan-grenegan sesaat. Dan cerita itu tidak menjadi penting.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar